📖*MUTIARA HIKMAH - Kamis 28 Mei 2026*
*“ASI Sebagai Ukuran Jati Diri Keimanan”*
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
📖 QS. Al-Mursalat (77) : 50
فَبِاَ يِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ
Fa bi-ayyi hadiitsin ba‘dahuu yu’minuun
"Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur'an) ini mereka akan beriman?"
Pertanyaan seriusnya adalah:
Adakah selain Al-Qur’an kumpulan kitab Zabur, Taurat dan Injil yang benar-benar logis serta dapat dipertanggungjawabkan secara OST JUBEDIL ataupun secara intelektual nilai kebenarannya?
Karena sesungguhnya hanya para Ulama dan Intelektual yang memiliki kapasitas OST JUBEDIL-lah yang mampu memahami, mengagumi, serta menyadari kehebatan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
📖 QS. Fatir (35) : 28
وَمِنَ النَّا سِ وَا لدَّوَآ بِّ وَا لْاَ نْعَا مِ مُخْتَلِفٌ اَ لْوَا نُهٗ كَذٰلِكَ ۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
"Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun."
Maka ukurlah diri kita, apakah termasuk kategori Ulama dan Intelektual OST JUBEDIL atau tidak?
📌 Ukurannya adalah:
siapa saja yang memprioritaskan ASI:
A = Al-Qur’an
S = Sholat
I = Infaq
Kemudian ASI tersebut diprogramkan dalam bentuk up grading yang disosialisasikan kepada masyarakat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
📖 QS. Fatir (35) : 29
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an), melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi."
Harus diakui, hingga detik ini tanggal 28 Mei 2026, Bangsa Indonesia belum termasuk bangsa yang memprioritaskan ASI sebagai acuan hidupnya.
ASI yang ada kebanyakan masih sebatas formalitas identitas Muslim, belum menjadi substansi jati diri yang melahirkan kapasitas Ulama maupun Intelektualitas OST JUBEDIL.
Karena itu ASI belum tercermin secara nyata dalam:
UU,
Program,
maupun Kebijakan Amanah para pemimpin bangsa.
Lihatlah delapan Presiden RI yang telah eksis, adakah kebijakannya yang benar-benar menjadikan ASI sebagai dasar perundang-undangan di NKRI serta memprogram rakyatnya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala?
Padahal seorang pemimpin dan siapa pun yang memiliki kedudukan strategis di masyarakat seharusnya memperhatikan perintah Allah:
📖 QS. Al-Anbiya (21) : 73
وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِ قَا مَ الصَّلٰوةِ وَاِ يْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَا نُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ
"Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah."
Juga firman Allah dalam:
📖 QS. Al-Hajj (22) : 41
اَ لَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَ رْضِ اَقَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تَوُا الزَّكٰوةَ وَاَ مَرُوْا بِا لْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلّٰهِ عَا قِبَةُ الْاُ مُوْرِ
"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."
🪞 Maka berfikirlah dan evaluasi diri:
Apakah ASI telah diprioritaskan dalam diri kita?
Dalam keluarga kita?
Dalam masyarakat kita?
Bahkan dalam Negara RI?
⚔️ *Salam Jihad*
✍️ *BES = Brother Eggi Sudjana.*










0 Komentar