Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Sebuah Kritik: Pancasila Versus Pancagila

MERPATINUSANTARA | Labuhanbatu Selatan - Awal mula istilah “Pancagila” adalah plesetan dan kritik satir terhadap penyelewengan implementasi Pancasila itu sendiri. Istilah ini dilontarkan Mr. Syafruddin Prawiranegara dalam sepucuk surat kritis yang ditujukan kepada Presiden Soeharto pada 7 Juli 1983. 

Surat tersebut kemudian diterbitkan secara luas sebagai dokumen publik pada 1984. Lewat buku antik dokumen politik berjudul "Berani Karena Benar: Jangan Menggantikan Pancasila dengan Pancagila", Syafruddin menuangkannya secara mendalam.

Sebagai tokoh Muslim progresif, ekonom, dan mantan Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia PDRI, Syafruddin prihatin tingkat tinggi. Nilai-nilai luhur dasar negara justru diputarbalikkan penguasa untuk melanggengkan kekuasaan otoriter.

Esensi Kritik “Pancagila”

1. Sindiran terhadap Penyalahgunaan
Syafruddin memakai istilah Pancagila untuk menyindir pemimpin atau kelompok politik yang mengatasnamakan Pancasila. Padahal tindakan nyata mereka melanggar moralitas dan akal sehat. Kata “gila” di sini adalah vonis: tidak waras jika dasar negara dipakai hanya sebagai topeng kekuasaan atau narasi tunggal.

2. Kritik terhadap Otoritarianisme Rezim
Kritik ini lahir dari keresahan dan pengamatan beliau pada masa Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru. Pancasila dijadikan alat pemukul politik untuk membungkam oposisi atau kaum berseberangan. Ideologi pemersatu berubah jadi alat penakut. Ideologi terbuka menjadi tertutup.

3. Penyimpangan Sila Pertama
Syafruddin menyorot persoalan khusus sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam praktik politik sekuler yang menghalalkan segala cara, sila ini sering diabaikan. Nama Tuhan disebut, tapi etika dan moral ditinggalkan sepenuhnya.

Mengapa Syafruddin Menentang “Pancagila”?

1. Mengaburkan Dasar Negara Asli
Membiarkan penyelewengan dan arogansi terus terjadi sama saja mengganti Pancasila yang suci dengan “Pancagila” yang rusak moralnya. Kulitnya sama, isinya busuk. Teksnya “Ketuhanan”, amalnya “kesetanan”.

2. Korupsi dan Ketidakadilan
Ketika Pancasila hanya jadi jargon di bibir atau seremonial, sementara korupsi, kolusi, dan penindasan merajalela di lapangan, makna ideologi itu membusuk dari dalam. Nalar kewarasan dirusak, dan cita luhur kesetaraan sosial serta keadilan menjauh.

3. Pembatasan Hak Bersuara
Syafruddin menegaskan: Pancasila sejati menjamin keadilan sosial dan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Bukan menciptakan ketakutan masyarakat terhadap pemerintahnya sendiri. Pancasila harus menyatu bersama denyut nadi kehidupan rakyat dan seru semestanya.

Penutup
Kritik tajam ini menunjukkan integritas Syafruddin Prawiranegara sebagai salah satu bapak bangsa. Beliau tidak ragu bersikap kritis demi menjaga kemurnian dasar negara Republik Indonesia.

Pancagila adalah alarm kala itu. Kalau kita diam, yang tersisa hanya kulit Pancasila tanpa jiwa. Pancasila versus Pancagila, dari dahulu hingga kekinian masih tetap dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini.

Ket. Foto: Momen membersamai Tokeh Pahri dan sejawat lainnya. Senin, 15 Dzulhijjah 1447 H/1 Juni 2026 M.

#MemantikBerbasisLiterasi #MBL #MemperjuangkanBasisLapangan

(Redaksi)

Posting Komentar

0 Komentar