Oleh: Muhammad Buyung Lubis
(KETUM MD KAHMI LABUHANBATU SELATAN)
MERPTINUSANTARA | LABUHANBATU SELATAN - Memaknai nilai-nilai Pancasila sebagai "Dapur Kita Sendiri" adalah metafora sederhana, menghangatkan, dan membumi untuk menggambarkan cara kerja ideologi negara ini dalam keseharian warga bangsa.
Jika Indonesia Raya diibaratkan rumah besar kita, maka Pancasila bukan pajangan di ruang tamu. Bukan pula teks kosong tanpa konteks, bukan narasi tanpa realitas. Pancasila adalah dapur utama, tempat seluruh cita rasa Nusantara diracik dan disajikan sebagai hidangan keadilan sosial bagi segenap anak bangsa.
Mengapa filosofi Pancasila relevan disebut "dapur kita sendiri":
1. Tempat Mengolah Keberagaman - Bahan Baku Utama
Di dapur, kita punya bahan yang beda-beda: cabai yang pedas, gula yang manis, garam yang asin, asam jawa, rempah-rempah, dan sebagainya. Jika dimakan sendiri-sendiri, rasanya tercerabut dari akar kemanusiaan. Tapi di "Dapur Pancasila", semua perbedaan suku, agama, ras, dan golongan diracik pas. Hasilnya satu kesatuan masakan lezat bernama Indonesia Raya.
2. Resep Asli Warisan Leluhur
Pancasila tidak diimpor dari negeri asing. Nilai-nilainya—ketuhanan, gotong royong, musyawarah—adalah bahan lokal yang digali langsung dari bumi Indonesia oleh para pendiri bangsa. Ini resep autentik milik kita, sesuai lidah, kepribadian, dan karakter bangsa.
3. Mengenyangkan dan Mensejahterakan Semua Orang
Fungsi utama dapur adalah menghidupi semua penghuni rumah. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, adalah hilir dari proses memasak keberagaman itu. "Dapur" ini harus memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang kelaparan, kekurangan hak dasar, atau kehilangan rasa adilnya.
4. Proses yang Terus Berjalan - Dapur yang Mengepul
Dapur yang hidup pasti mengepulkan asap. Ada aktivitas, ada roda kehidupan yang berputar. Begitu juga Pancasila. Ia bukan benda mati. Nilai-nilainya harus terus diterapkan, tumbuh di ruang publik, diuji, dan dihidupkan setiap hari lewat perilaku kita. Menjaga dapur tetap bersih dan produktif adalah tanggung jawab bersama seluruh pemilik rumah.
Jargon ini mengajak kita berhenti melihat Pancasila sebagai teori kaku. Pancasila adalah ruang paling intim, sibuk, dan penting di rumah kita. Tempat kita belajar berbagi, membangun peradaban, menjaga persatuan, dan merawat rasa kekeluargaan.
Ya, keluarga besar kita adalah Indonesia Raya. Kita bangun kwalitas sumberdaya manusianya, kita jaga kekuatan Institusinya, kita rawat kesetaraan dan kelestariannya. Pancasila: Dapur Kita Sendiri.
Ket. Photo: Momen membersamai Add. Isty Salsabila dan keluarga sehimpun.
Senin, 15 Dzulhijjah 1447 H/01 Juni 2026 M.
#MemaknaiBerbasisLiterasi #MBL
(Redaksi)










0 Komentar