Oleh: Muhammad Buyung Lubis
(Ketua Umum MD KAHMI LABUSEL)
Keberadaan Bung Hatta semasa pengasingan di Boven Digoel (1934 M), sebuah tempat paling timur Nusantara yang dirancang bangun oleh kolonial sebagai pembuangan para kaum pergerakan agar semangat mereka padam tak menyala-nyala lagi, hilang daya geloranya. Tetapi..
Sisi berbeda, tidak demikian dengan Bung Hatta malah Tanah Anim Ha (Boven Digoel, Papua) dapat menginspirasi untuk mengubah keadaan penjara menjadi "rahim" yang melahirkan ide dan gagasan yang beliau tuangkan dalam sebuah karya: Alam Pikiran Yunani
Bayangkan saja, nun jauh di sana, pondasi dasar alam pemikiran yang merdeka itu muncul dari kesunyian. Beliau bicara soal orang² Yunani nun jauh di ufuk barat, padahal raganya berada di tempat matahari terbit tetapi buah pikirannya pada zona matahari terbenam, alam pikirannya bak miniatur hamparan bumi, dari masyriq ke maghrib.
Coba renungkan dengan matang! Hatta telah merumuskan kerangka alur pemikiran manusia, ya generasi Yunani: dari skema bahan dasar ala Thales hingga filsafat menjadi fondasi sains versi Aristoteles, berawal mitos hingga berakhir menjadi Logos.
Ya, dalam menuju seabad: "Alam Pikiran Yunani" akankah bermetamorfosa menjadi lahir tumbuh berkembang generasi pembaharu: "Alam Pikiran Papua"?
Terakhir, begitulah Hatta yang hingga kini belum ada generasi anak bangsa yang sebanding "kesahajaan" dengannya. Lahu Al Fatihah...
Ket. Photo: Alfi Syach, Hardi N, Muhtar Mutta Boven Digoel, Papua Selatan 2021 M.
Selasa, 03 Dzulqa'dah 1447 H/21 April 2026 M.










0 Komentar