Oleh: Muhammad Buyung Lubis
(Ketua MD KAHMI LABUSEL)
Cetak biru "arketipe" kekuasaan absolut yang mengklaim kendali penuh atas seluruh narasi, penguasaan teknologi, dan monopoli standar peradaban. Ranah level global, ini tampak sebagai hegemoni sistem yang membuat negara dalam genggaman, kapitalisasi korporasi, bahkan individu merasa harus tunduk patuh “mengikuti arus”. Wataknya: sentralisasi, depersonalisasi manusia jadi data dan sumber daya (data & angka-angka) untuk diperdagangkan, dipertarungkan, disayembarakan pada panggung dunia.
Qorunisme – Nasional
Skema teritorial sumberdaya, arketipe kekayaan yang menjadikan modal sebagai alat dominasi politik. Pada level nasional, ini merupakan pergerakan jaringan lintas oligarki dan konglomerasi yang menyatu dengan kekuasaan dan sendi-sendi kehidupan rakyat. Rekayasanya: hukum dan kebijakan dibentuk untuk estimasi dan akumulasi, bukan keadilan sosial dan keadilan ekonomi. “Ini semua karena hartaku (group), setiap alam dan manusia adalah sumber kekayaanku (aku ke aku yang lain)” dan dijadikan sebagai alat pembenarannya (materialisme absolut).
Hamanisme – Lokal
Agensi maklar (makelar), arketipe birokrat dan elite lapangan yang jadi eksekutor sistem di atasnya (perpanjangan tangan). Untuk level lokal, ini pejabat, tokoh, dan jaringan yang menjaga status quo sehari-hari, tahun ke tahun hingga berabad-abad. Polarisasi wataknya: dekat dengan rakyat (citra publik) tapi sering jadi penjaga pintu gerbang yang korup (maklar lokal) karena merasa tak tersentuh hukum dan bertindak bebas sewenang-wenang.
Kenapa disebut “tiga tungku”?
Ketiganya saling menguatkan dan membutuhkan (The Theory of Needs). Fir’aun butuh Qorun untuk modal, Qorun butuh Haman untuk operasi lapangan, Haman butuh Fir’aun-Qorun untuk legitimasi dan aliran sumber daya. Maka, memutus satu mata rantai, seluruhnya akan goyah.
Metamorfosa Tiga Tungku
Kerangka "Tiga Tungku Penindasan" ini bergerak sistemik saling menopang. Itu sebab disebut “tiga tungku” — laju geraknya cepat karena ada 3 sumberdaya sekaligus.
Metamorfosa Tiga Tungku untuk jalur perubahan: bukan hancurkan tungku (simbolnya), tapi ubah fungsi dan relasinya. Begini bacaannya:
Global - Nasional: Dari Fir’aunisme - Musaisme
Metamorfosanya: Dekonstruksi narasi tunggal.
Fir’aunisme global memaksa penyeragaman standar, teknologi, dan narasi. Nasional biasanya jadi pelaksana di lapangan.
Metamorfosa terjadi ketika aktor nasional berani membangun kedaulatan narasi dan kebijakan yang berpijak pada konteks lokal.
Ini peran sejati dari Musaisme: berani menyatakan “tidak” ke hegemoni, membawa visi kemanusiaan yang tidak bisa direduksi jadi data dan angka (diplomasi tingkat tinggi).
Penandanya: kebijakan luar negeri, sains dan teknologi, ekonomi diukur dari martabat manusia, bukan cuma kadar efisiensi sistem. Tapi, manusia dan peradabannya.
Nasional - Lokal
Dari Qorunisme - Harunisme. Metamorfosanya: Perubahan fungsi modal dan hukum.
Qorunisme nasional menjadikan hukum dan anggaran sebagai alat akumulasi. Lokal jadi wilayah inti operasi. Metamorfosa terjadi ketika jaringan nasional berubah fungsi jadi penerjemah dan penyalur, bukan makelar oligarki. Ini peran strategis Harunisme: fasih bicara, menjembatani tuntutan akar rumput dengan kebijakan, memastikan anggaran dan regulasi sampai tanpa disunat di tengah jalan.
Patok penandanya: hukum dan kebijakan dibentuk untuk keadilan sosial-ekonomi, bukan untuk estimasi keuntungan sebesar untuk oligarki sementara rakyat menderita takterperi .
Lokal - Kultural
Dari Hamanisme - Syu’aibisme. Metamorfosanya: Perubahan fungsi elite lapangan. Hamanisme lokal menjaga status quo karena merasa tak tersentuh oleh dan apa, siapa pun. Dekat dengan rakyat secara citra, tapi jadi penjaga pintu yang korup.
Metamorfosa terjadi ketika elite lokal berubah jadi penjaga timbangan. Ini peran ujung tombak Syu’aibisme: Menghidupkan kembali kejujuran transaksi, keadilan pasar, tata kelola desa, dan norma adat yang berpihak ke rakyat kecil. Tandanya: institusi lokal kecil yang konsisten, transparan, sulit dibeli, digadaikan dan seterusnya. Kalau kultur berubah, Hamanisme kehilangan legitimasi sosial.
Akhirnya, sifat, watak, perangai dari Fir'aunisme, Qorunisme dan Hamanisme itu ada dalam diri kita sendiri. Kita sendirilah sebagai penentu atas pilihan jalan hidup kita untuk menjadi manusia yang bergerak dengan sepenuh maslahat; Musaisme, Harunisme dan Syu'abisme. Perseteruan hak dan bathil itu abadi dalam setiap perhelatan dunia, dan pada diri kita sendiri. Sekian.
Ket. Photo: momen bersilaturahmi.
Jumat, 12 Dzulhijjah 1447 H/29 Mei 2026 M.
(Redaksi)










0 Komentar