Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Proses Panjang Perkaderan Himpunan Mahawiswa Islam (HMI)

Oleh: Muhammad Buyung Lubis
(KETUA UMUM MD KAHMI LABUHANBATU SELATAN - INSTRUKTUR NASIONAL HMI)

MERPATINUSANTARA | LABUHANBATU SELATAN, Minggu 31 MEI 2026  - Proses kaderisasi itu panjang waktunya karena mengemban misi kolektif dari tatanan nilai² perjuangan. Agar 'semangat' juang itu tidak padam lalu mati menyisakan abu bertaburan tidak tentu arahnya maka menjadi keharusan untuk senantiasa meniup²kan apinya dalam bingkai 'hak, tugas, kewajiban dan tanggungjawab' oleh setiap individu kader demi kelangsungan kesinambungan suatu organisasi.

Waktu yang lama itu proses mewujudkan misi perjuangan organisasinya. Boleh jadi beribu² berjuta² kader telah terkubur di perut bumi dari lintasan musim melewati rangkaian masa melampaui rentetan jaman hingga lahirnya keragaman generasi tetapi energi juang harus tetap berkobar² dalam setiap jiwa para penerusnya. Ya tentunya, volume energi yang dibutuhkan lebih besar dari pendahulu. Semestinya, begitu.

Lalu apa yang singkat ? Periode-periode kepengurusannya setiap tingkatan. Etape² kaderisasinya. Mulai dari training formal, non formal: latihan kader, senior course, latihan khusus kohati (kekohatian), follow up, up grading, rapat kerja, rapat anggota, rapat harian, rapat presidium, rapat pleno, rapim, musyawarah (musko, musang, muscab, musda), konferensi hingga kongres. Pun juga berjubel aktivitas² tambahan yang menyertai setiap agenda kegiatan serempak bersamaan bersifat kondisional. Lain lagi 'kearifan/kebijakan' masing² setiap jenjang struktural. Semuanya, singkat.

Ya. Sedikitnya waktu dalam lapangan 'civitas akademik' berbanding lurus dengan luar kampus. Sisi lain banyaknya rahim perkaderan melahirkan kader² baru yang menjadi tuntutan amanah konstitusional atas adanya proses regenerasi struktural dan warisan kultural. Maka kesinambungan regenerasi itu yang menjadi nafas kehidupan bagi himpunan hingga bertahan sampai kini.

Nah, periodesasi kepengurusan yang singkat tepat waktu (data, fakta, aktual) menjadi bahagian dari indikator sehatnya suatu organisasi (arketip perkaderan). Tentunya, kader² yang memiliki kemampuan 'cepat dalam proses mengambil keputusan' akan selaras tumbuh subur. Sedangkan yang molor berlarut² itu penyakit yang membuat organisasi sakit akut. Diamnya para kader itu karena kader²nya juga pesakitan. Sedangkan diamnya para senior, boleh jadi itu puncak amarahnya.

Coba kita kenang² kembali dalam lembaran ingatan atas apa yang pernah terbaca dari data² historis dan falsafah yang mendasari berdirinya 'Himpunan' sungguh ada cita-cita besar nan luhur padanya: Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Jadi, kandungan butir² nilai filosofis yang mendasari berdirinya itu yang kemudian menjelma menjadi 'inspirasi besar' bagi generasi awal untuk merancang bangun tata nilai 'Keislaman dan Keindonesiaan' sebagai ideologi pergerakannya tanpa adanya dikotomi nilai dalam diri setiap 'insan cita' pada tarikan nafas citanya. Bak dua sisi mata uang dalam satu logam. Sehingga, tidak ada dilema dalam jiwa kader antara Islam dan Negara. Politik dan Agama. Kebudayaan dan Kebangsaan dan lain²nya.

Akar² historisnya, jauh di kedalaman 'budi luhur' para patriot² anak bangsa sebelum era kemerdekaan. Yuk, kita telusuri satu akar lalu ke akar lain. Bagaimana 'Jong Islamieten Bond'    dan benang merah alur gerakannya dengan kaum pemuda hingga tercetusnya 'Sumpah Pemuda 1928' yang semua itu bertali kelindan menopang misi kemerdekaan segenap anak bangsa 'kedaulatan' bagi semua tumpah darah Indonesia yang di cita²kan (civil society and nation state), saat itu.

Pertalian benang rasa. Cita rasa menyulut jiwa. Rasa yang menjalari sendi² organ pergerakan pada tiap jejaring akar rumput. Akar tunjang dan serabut. Mencari sumber² asupan gizi bagi kelangsungan 'nafas cita' tanpa jeda. Detik berarti, menit memaknai. Pada setiap 'pukul' waktu tersimpul dengan karya terbaru. Sehari segudang gagasan, sebulan tercipta letusan isu² strategis, setahun 'mata dunia' terfokus pada sebuah bangsa yang disebut Indonesia. Itu berlangsung berulang² dalam bingkai 'perwujudan' bagi peradaban dunia (all the peoples in the world). Karena kemerdekaan butuh pengakuan.

Tarikan nafas cita itu bergerak selaras dengan 'jiwa cita' dalam diri setiap kader. Gerak yang bersumber dari detak 'nawaitunya' yakni niat tulus ikhlas yang memompa darah juangnya lalu mengalirkannya ke seluruh organ² tubuh dengan membawa pesan kesadaran atas 'jati diri, harga diri, saksi diri' untuk selalu bersyukur dan ikhlas. Artinya, dari apa niat semula hingga proses akhir akan bertemu pada satu titik yang sama (siklus) berkesinambungan hingga terbentuk suatu karakter ihsaniyah. Huwal awwalu wal akhiru.

Karakter kader yang ihsaniyah kah? Ya iya. Suatu karakter yang embrionya dari tata nilai keimanan lalu tumbuh berkembang pada hamparan bumi keislaman hingga dapat menarik energi langit untuk turun ke bumi mewujud sebagai berkah dan rahmat bagi seru sekalian alam. Itulah pribadi² kader yang paripurna, insan mustafad, hanifam muslima, insan kamil, rausyan al fikri wal muharriq. Pembawa misi dakwah rahmatan lil'alamiin.

Karakter kader yang hewaniyah kah ? Bukan. Beban peradaban bukan tugas hewan. Ini kerja² kemanusiaan. Tugas² kehidupan yang mulia. Sebagai 'khalifah fil ard' mengemban amanah ilahiyah. Bukan hidup yang hanya ala kadar. Bak ungkapan hikmah Buya Hamka, "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera di hutan juga bekerja."

Yuk, sesi jeda. Kita ulang kembali memori indah saat bersama bersilaturahmi dengan alam pemikiran Bung Hatta: ..."Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap² bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita² yang tersimpan dalam dadaku." (Bung Hatta, 1935). Kini, sosok Bung Hatta bak mitos bila bacaan kita alam kekinian. Akankah abad ini, ibu Pertiwi akan melahirkan pemuda pemikir besar seperti beliau !? Wallahu 'alam bishawab. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Waktu luang. Selipkan titik fokus sejenak untuk bertandang ke depan halaman pemikiran HOS. Tjokroaminoto sembari bercengkrama bersenda gurau pada hamparan jiwa yang luas membentang seakan tak bertepi. Lalu, pusatkan pandangan pada torehan penanya..“bagi kita orang Islam tidak ada sosialisme atau rupa-rupa isme yang lebih baik, yang lebih elok dan lebih mulia melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” (HOS. Tjokroaminoto, 1924). Setelah itu, manfaatkan waktu sela untuk berandai-andai berkira-kira menerawang masyarakat cita.

Perlukah berandai-andai, sekiranya ? Perlu: Andai aku raja. Andai dia milikku. Andai kita bersua kembali. Andai aku adalah dia. Tentunya, Andai-andai yang sekilas membekas pada sanubari yang menjadi sebab terukir lukisan masa depan nan indah dalam pandangan nun jauh di sana pada Taman Jiwa. Taman Indonesia. Hah, tarik nafas, lepas. Ajak diskusi dalam sunyi Ki Hajar Dewantara hal apa yang pernah beliau tuliskan: ...'Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.' Hal pemikiran demikian yang dapat memantik nalar menuntut kesetaraan, mengevaluasi kesenjangan, melawan penindasan dan sebagainya (Ki Hajar Dewantara, 1913)."

Oh ya. Rentang waktu khusus, amat penting menghadap bapak bangsa KH. Haji Agus Salim. Membersamai menyeruput kopi pagi, mendalami pesan² kebangsaan yang organik. Renyah. Tegas. Berkelas global. Bedah alam kesadarannya terkait kepemimpinan dan nilai² ketauladanan para pemangku kuasa. "Memimpin itu menderita" itu falsafah hidupnya. Menderita: 'Men-' itu afiksasi. Ada proses setelahnya, ada perubahannya, ada rekayasanya, ada nilai tumbuh dan kembangnya hingga membentuk 'wawasan global' yang menopang gerakan diplomasi antar negara bangsa. 'Derita': bahasa sansekerta, dhra, menahan, menanggung. Memaknainya dengan 'nalar historis' merajut kedalaman arti yang melintasi ragam budaya bangsa dengan mengesampingkan 'motif subjektif' mengedepankan  'motif objektif' dalam bernalar untuk menemukan 'jiwa rakyat' yang akan ditopang ditanggung oleh Pemimpin rakyat, plus visi besar kepemimpinan dunia. Ya, ucapan yang sama disampaikan oleh tokoh yang berbeda maka akan berbeda pula kedalaman maknanya. 'Kata' yang keluar dari tokoh berjiwa luhur akan berbeda 'volume energinya' dengan 'kata' yang hadir dari tokoh yang hanya terfokus pada jasmaninya yang subur.

Dalam sunyi sepi malam di tepi pantai, angin berhembus pelan-pelan, ombaknya berdebur. Lihatlah alam terbentang luas. Lautan seakan tak bertepi. Suasana cipta kedamaian. Tenang. Segalanya, terintegrasi pada satu hukum, sunnatullah (hukum alam). Sedemikian juga halnya dengan negara bangsa. Sampai di sini, 'alon alon' telusuri jejak dasar pemikiran Soepomo terkait dasar negara: ..."Persatuan (Unitarisme), Kekeluargaan, Keseimbangan lahir dan batin, Musyawarah, Keadilan rakyat." Berlanjut lagi menalari pada jejak negara² yang pernah disinggahinya yang mana itu semua turut serta berperan dalam membentuk kerangka pikir 'integralisme Soepomo' terilhami dari teori integralistik. Begitulah para pemikir, selalu mendapat derajat tertinggi dalam kehidupan berbangsa, seperti Soepomo yang kemudian hari dinobatkan sebagai Bapak Konstitusi Indonesia.

Biasakan saja mencandai apa² yang menjadi isi kepala sendiri. Sambung²kan dengan apa² yang menjadi isi kepala para tokoh bangsa, plus tokoh dunia. Rangkai karya² yang mereka torehkan dalam lembaran² kertas, berupa tulisan²nya, kritikan²nya. So, waktu istimewa ajaklah sarapan pagi bareng Bpk. Bangsa Muhammad Yamin, ngobrol dengan beliau tipis² terkait 'Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara' ini karya beliau, bertumpuk² lagi karya besar lainnya. Diskusi soal 'Gaja Mada' ada rentang abad yang harus dilalui ke belakang, kisaran 1300 M -1200 M. Era Nusantara, masa di mana tatanan kepemimpinan tanah pertiwi di bawah kendali para raja² kecil dan besar. Telisik juga fakta² penomenal buah pikiran dari Pak Yamin: sosok politisi, sejarawan, budayawan, pakar hukum, pemrakarsa puisi modern dan lainnya. Dengan begitu, rajutan lintas tokoh bangsa akan terhubung dengan lainnya.

Pada tengah malam yang sunyi. Aktifkan imajinasi, bergerak senyap melangkah pelan-pelan ke tempat persembunyian Tan Malaka di bawah tanah. Naar de Republiek: Menuju Republik Indonesia, itu topik suguhan diskusinya. Bagaimana embrio Indonesia bermula, berproses menjadi gerakan raksasa yang revolusioner. Bagaimana melihat Indonesia dari kacamata luar dan dalam negeri, ibu pertiwi. Bagaimana Indonesia dalam cita² merdeka 100 persen. Bagaimana Indonesia menjadi mercusuar dunia. Segudang 'epistemologi' yang sangat penting untuk dibincangkan dengan sosok yang mampu menggelegarkan ruh pergerakan negara² yang tertindas oleh imperialisme kolonialisme barat. Epistemologi kanan dan kiri. Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, sosok 'filsuf' yang lahir untuk membidani kelahiran Indonesia yang oleh Mr. Muhammad Yamin menjadikan Tan Malaka menempati urutan pertama dari semua tokoh pergerakan kemerdekaan Nusantara, Indonesia.

Moment rebahan saat rahat pada peraduan di pulau kapuk yang terkesan sederhana tapi syarat makna. Bercumbu dengan suasana dan isi hati sendiri, itu baik. Semai keharmonisan alam pikir dengan kesadaran universal. Tilik lanjut, sosok lain. Tokoh² revolusioner progresif. Atau, para pencipta sejarah lainnya. Ya, Soebroto nama kecilnya yang kemudian nama itu berubah menjadi Soetomo. Siapakah Soebroto atau Soetomo? Bagaimana cipta sejarahnya? Bagaimana beliau membidani negeri yang sakit akut terpuruk, lalu beranjak sehat lalu bangkit. Bagaimana tahapan² pergerakannya dengan kawan²nya. Kita mulai menjejaki dari organisasi pergerakan perhimpunan nasional Budi Utomo: gerakan sekelompok kecil kaum terpelajar dengan menjunjung tinggi luhur budi yang utama, mulia. Terkonsentrasi pada sosial budaya, ekonomi, pendidikan, pengajaran dan politik. Budi Utomo efek sebagai cikal bakal yang menginspirasi kaum pelajar dan pemuda untuk membentuk organisasi² pergerakan nasional lainnya bertambah tumbuh menjamur. Menggeliatnya tumbuh kembang kaum pergerakan kebangkitan bangsa menambah jejak historis Soetomo dalam keberadaanya dalam lingkaran persiapan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1938 beliau wafat sebelum cita-cita kemerdekaan terwujud (proklamasi, 1945). Hal yang sudah tentu, jasadnya terkubur tetapi tidak dengan jiwanya. Jiwanya merdeka..!!!!

Yok, kita penyegaran hati dan pikiran sesaat sebelum melanjutkan lawatan pada tokoh bangsa yang lain. Ada nama Machmud Singgirei Rumagesan di Kepulauan Cendrawasih. Pribadi yang diri dan keluarganya  terintegrasi dengan rumpun keluarga raja² Nusantara. Berawal dari pergolakan pemikirannya dengan keadaan rakyat miskin dan kerisauan hatinya atas sikap monopoli perekonomian era 'kapitalisme modern' yang menguasai seluruh sendi kehidupan rakyat kala itu terpuruk, termarjinalkan, menjadi budak di negeri sendiri, kuli di tanah ibu pertiwi, buruh paksa di tanah yang alamnya kaya raya. Pergolakan jiwanya itu yang membawanya pada sebuah kesadaran akan pentingnya 'nilai perjuangan' membela melindungi mengambil tanggungjawab kemanusiaan yang lebih besar atas dasar marwah bangsa. Bagaimana geopolitik dunia, raja² pemangku adat tempatan, zona kawasan strategis kepulauan timur, negara tetangga, sumberdaya alam darat dan laut. Yang semua itu, membentuk kesadaran kolektif menyemai bibit perlawanan pada bangsa penindas hingga menghantarkannya ke jeruji besi bersama sejawat dan rekan juangnya di Pulau Saparua (MSR: 1934), yang masa bersamaan Bung Hatta dan pejuang lainnya diasingkan dipenjara Boven Digoel. Yok, kita renungi makna penjara bagi kaum pergerakan. Penjara menjadi tempat berhimpun kaum pergerakan senasib sepenanggungan, derita dan nestapa. Rasa senasib itu, terorganisir sedemikian rupa mengilhami taman jiwa anak bangsa menghidupkan 'nasionalisme' tumbuh subur. Ya, hal ihwal sampai pada simpul jejak hidup MSR, nama beliau dinobatkan sebagai pahlawan Nasional.

Omong omong kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali telaah kritis jejak para tokoh. Oya, ada hal terpenting untuk dibaca diambil faham keberadaannya oleh 'generasi kaderan' yaitu jejak peran kaum perempuan dalam sejarah pergerakan kemanusiaan. Masih seputaran waktu timur Indonesia, terdapat sosok 'wanita belia' yang melegenda melekat kuat 'heroiknya' pada 'jiwa rakyat' kepulauan Maluku. Nama itu 'Martha Christina Tiahahu' patriot yang melampaui zamannya melewati dimensi masa yang jauh hingga berabad lamanya (sejak 1800 M). Wal hal, Martha CT tutup usia 18 tahun. Hidup yang singkat, yang lama itu 'kehidupan jiwanya' yang selalu ada berhadir mengiringi peradaban bangsa ini. Adakah kita temukan perempuan yang demikian jiwanya, kekinian? Bagaimanakah menemukannya? Atau, bagaimana proses kaderisasinya? Padahal, usia itu adalah masa pra kampus. Ini tugas mulia !

Cipta suasana yang tenang, penting. Apalagi obrolan diskusi 'nawa cerita' para pelaku sejarah. Pulau Halmahera, terdapat nama Haji Salahuddin bin Talabuddin (Pahlawan Nasional, 1874-1948 M). Tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang hidupnya berakhir pada prosesi eksekusi mati oleh regu tembak di kawasan Skep, Kelurahan Salahuddin (nama kelurahan sebagai pengabadian), Kota Ternate. Sebelumnya, berderet rentetan hukuman² telah dijatuhkan karena perjuangan beliau dalam menentang penjajah dan keberanian mengibarkan Merah Putih di Tanjung Ngolopopo, Patani Halmahera Tengah pada tahun 1941. Hal ini, telah lebih awal dilakukan Haji Salahuddin bin Talabuddin jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta. Menyimak data yang terbaca dari rekam perjuangan beliau, sungguh syarat dengan nilai pejuang bahkan harus merasakan penjara berkali-kali berpindah-pindah dari satu tahanan hingga kamp pengasingan. Selama lima tahun di Sawahlunto Sumatera (1918-1923), di Pulau Nusakambangan (1941-1942), serta di Boven Digoel (1943) berselang beberapa tahun dengan Bung Hatta (1935-1936 M).

Sebelum kita berlanjut. Jeda sedikit waktu untuk menggali segudang hikmah. Tentunya, kedalaman hikmah bergantung pada hikmat dalam proses berpikir atas ragam pertanyaan: Apa yang menjadi landasan dasar perjuangan mereka? Kenapa penjara menjadi gerbang yang harus dilalui kaum pergerakan kemerdekaan? Di mana mereka menemukan jati diri bangsa itu? Kapan mereka menentukan menetapkan 'strategi dan taktik' perjuangan? Mengapa mereka rela berkorban nyawa sendiri sebagai 'konsekuensi' dalam mewujudkan perjuangan? Bagaimana mereka menemukan 'energi jihad' selama dalam proses pengasingan, tahanan, buangan? Nah, dari pertanyaan² di atas kita bisa mengevaluasi 'proses perkaderan' untuk melahirkan generasi terbaik (insan cita)? Ya, ada prosesnya: 'terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk' (Tan Malaka).

Selain mendalami alam pemikiran para tokoh pendahulu juga hal yang tidak kalah penting adalah menjelajahi 'teritorial' jejak lapangan perjuangannya: "Yang tersisa dari perjalanan adalah kenangan. Yang tertinggal dari ujung mata pena adalah tulisan. Yang bernilai dari pertemuan adalah kesan. Yang akan mewujud dari mimpi adalah harapan. Yang terangkum dalam sebuah kesimpulan adalah hikmah (catatan pribadi)."

Kita buka lembaran tokoh yang lain. Terdapat nama yang tercatat dalam lembaran sejarah perwujudan kemerdekaan Indonesia, Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) dari Manado, Pulau Sulawesi. Sosok yang berderet bertengger bakti luhurnya kepada Republik Indonesia ini. Pada masa pra kemerdekaan (kolonial) Alex Maramis dalam data nasional pernah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia yang menyebarluaskan 'konsep besar' gagasan kebangsaan bersama para pejuang lainnya. Dia juga adalah anggota BPUPKI, serta Panitia Sembilan: Soekarno (ketua), Moh. Hatta (wakil ketua), Moh. Yamin, Achmad Soebardjo, A. A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Abikoesno Tjokrosoejoso yang merumuskan Piagam Jakarta pada tahun 1945 M. Ya, perlu kerangka nalar dasar bagi setiap 'kader himpunan' pun juga 'anak bangsa' untuk memahami negara bangsa ini: ontologinya nusantaraisme, epistemologinya maritimisme, aksiologinya multikulturalisme. Agar utuh pemahaman kita terkait 'peran komplit' para pejuang dari berbagai latar belakang, suku, ras dan agama. Sehingga membentuk suatu kekuatan raksasa yakni energi kekuatan yang bersumber dari 'keragaman' itu sendiri. Keragaman adalah kekuatan (rumus antropologi).

Sembari duduk enjoy, yuk kita 'evaluasi diri' lalu kembali 'mengulang kaji' tentang tata nilai perkaderan kita: ..."Akar pohon dari Himpunan adalah nilai² pergerakan (baca: aktivitas) yang hadir dari semangat (nawaitu) yang kokoh dalam mengaktualisasikan keislaman dan keindonesiaan. Nilai² 'univelsal' itu yang diamalkan setiap 'kader cita' dalam menafasi kehidupan sehari²nya. Pengamalan akan membentuk tradisi² lokal yang kemudian mewujud dalam bingkai 'keragaman budaya bangsa' yang menjadi penopang suatu peradaban dunia (catatan: Boven Digoel, 2021)." Cukupkah dengan 10 kader terbaik, atau 10 pemuda seperti yang diucapkan Bung Karno, ditambah lagi 10 tokoh berkaliber nasional? Tidak cukup. Perlu sebaran menyeluruh 'kader² pilihan' (musthafad) yang berada pada tiap² titik lini nadi kehidupan warga bangsa Indonesia bahkan warga dunia. Bila sudah begitu, kepemimpinan Indonesia adalah miniatur bagi pemimpin² negara lainnya.

Jam terbang lawatan yang banyak. Rangkaian ruang waktu, terlampaui. Guru guru tersembunyi, ditemui. Terminal terminal buku, ditandangi. Majelis majelis ilmu, disenangi. Kampus kampus kehidupan, dijelajahi. Sahabat sahabat sejawat, disemai. Gang gang sempit, dijalani. Kota kota kecil, besar, dilancongi. Kampung kampung pedalaman, dijelajahi. Hutan hutan rimba, pegunungan, disusuri. Puncak puncak gunung, kawah, didaki diteliti. Hamparan hamparan lautan, berbadai berombak, diseberangi. Panas panas, dingin salju, cuaca ekstrim, dikuatkan badan. Keluarga keluarga sentosa, sengsara, disilaturahim. Anak anak jalanan, terbuang, diempati. Dan orang orang terdidik dan yang termarjinalkan. Perempuan perempuan karir, juga yang cacat sosial. Yang terpublik dan yang bergerak dalam sunyi. Ini semuanya adalah 'sumber nilai' yang menyimpan kebaikan kebaikan bernilai tinggi seharkat dengan alam dan kemanusiaannya. Itu sebab, hikmah itu sesuatu yang tercecer berserak di mana mana saja, ada. Siapa saja berhak memetiknya. Yang baik akan memperoleh kebaikan dari perbuatannya, pun sebaliknya. Hasan bilhasan, dzon bilzhon, khair bilkhair.

Bil khusus, membangun kesadaran intelektual kader cita dengan proses silaturahmi ke mana saja di mana saja:..."Hadir bersilaturahmi dengan hati merdeka. Yang datang dengan jiwa yang tenang, akan pulang dengan segudang kasih sayang. Yang pergi akan kembali untuk menunaikan ikrar yang telah terpatri. Yang bertemu karena Allah akan berpisah penuh berkah. Waktu akan terangkai hingga masa yang dicita tercapai. Yakin usaha sampai. Musim akan berulang (Merauke, 2021 M)." Yang nantinya, kesadaran intelektual itu sebagai modal dasar bagi insan cita untuk jatuh bangun bersama dalam mewujudkan masyarakat cita (civil society). Ini sekedar 'merevieu' kembali apa yang telah dinarasikan di atas.

Hayoo, kita kembali menjejaki riwayat hidup para tokoh. Siapa lagi ya?

Berlanjut....

Posting Komentar

0 Komentar